Assalamu'alaikum !

BETAWI POST
Bersama Melangkah Maju

Selamat Datang ! Bagi Anak Betawi yang memiliki akun di blogspot dan berkenan menulis di sini, silakan informasikan email anda kepada Kami. Bagi Anak Betawi atau siapa saja yang peduli dengan BETAWI, yang ingin meyumbangkan tulisan atau sekedar mengisi ruang Bisnis Dan Usaha dengan Iklan, buruan kirimin aje kepada Kami dan Insya Alloh akan segera Kami publish.

Tari Cokek

Written By Andikuple on Minggu, 08 Mei 2011 | 20.31



Cikal bakal masyarakat Betawi yang berasal dari berbagai suku bahkan bangsa, membawa kebudayaannya kemudian mempengaruhi kebudayaan Betawi, termasuk seni tari yang tidak lepas dari seni musik yang mengiringi tarian tersebut. Dapat kita lihat bentuk-bentuk tari Zafin, Samrah dan Serampang duabelas merupakan pengaruh kebudayaan Melayu, yang relatif masih asli. Bentuk-bentuk tari lama yang ditemukan di Betawi, mendapat pengaruh yang cukup kuat dari daerah Sunda. Pengaruh tersebut dapat kita lihat antara lain tari-tarian yang biasa dibawakan dalam pertunjukan Topeng Betawi, tari Blenggo, baik Blenggo Rebana ataupun Blenggo Ajeng, tari Uncul, yang biasa diselipkan pada pertunjukan Ujungan Betawi dan lain-lain.


Oleh karena kegiatan tari pada masa-masa lalu sering dikaitkan dengan hal-hal yang kurang terpuji, maka terbentuk citra yang kurang positif tentang seni tari rakyat. Di kalangan masyarakat Betawi yang teguh menjalankan syariat agama Islam, yang untuk mudahnya disini disebut golongan Santri, penampilan penari perempuan kurang dikehendaki. Dengan demikian maka tari-tari Zafin, Samrah dan Blenggo yang didukung umumnya oleh golongan santri tidak biasa dilakukan oleh kauro perempuan. Di luar kalangan itu, yaitu di kalangan masyarakat yang untuk mudahnya di sini disebut golongan abangan, penampilan penari perempuan sudah menjadi lazim. Dikalangan santri seluruh penari pada umumnya berstatus amatir, menari sekedar sebagai memenuhi kesenangan belaka.


Sedang pada kelompok abangan pada umumnya merupakan kesenian profesional, menari sebagai mata pencaharian.

misalnya menuangkan minuman kedalam gelas, menambah nasi atau lauk pauk dan sebagainya dengan sikap yang luwes karena memang cukup terlatih untuk keperluan itu. Pada perkembangan kemudian, cokek diartikan sebagai tarian pergaulan yang di iringi orkes Gambang Kromong, dengan penari-penari wanita yang disebut "wayang cokek", dengan mendapat imbalan uang. Para tamu diberi kesempatan yang luas untuk ikut menari berpasangan dengan cokek-cokek itu. Orang Betawi menamakannya "ngibing cokek". Sebelum dan selama ngibing mereka disodori minuman keras, untuk menambah semangat menari, seperti misalnya tari Tayub di Jawa Tengah.

Menurut beberapa keterangan, tari Cokek padajaman dahulu dibina dan dikembangkan tuan-tuan tanah Cina yang kaya raya. Sampai sebelum Perang Dunia ke dua kelompok kesenian ini dimiliki oleh "cukong-cukong" golongan Cina peranakan. Cukong-cukong inilah yang membiayai penghidupan para seniman Gambang Kromong dan para penari Cokek. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan tempat tinggal khusus bagi mereka. Dewasa ini sudah tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan penghasilan mereka.


Sebagai tarian pembukaan pada tari Cokek ialah "wawayangan", Para penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu mereka mengajak menari kepada yang hadir dengan mengalungkan selendang. Penyerahan selendang biasanya dilakukan kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia mengibing, maka mulailah mereka menari secara berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Dalam beberapa lagu ada pula pasangan penari itu yang saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup luas, atau pasangan yang menari tidak terlalu banyak, kadang-kadang ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas. Setelah selesai "ngibing" para pengibing pria memberikan imbalan beberapa uang sekedarnya kepada penari cokek yang melayaninya.


Pakaian "wayang cokek" pada masa-masa yang belum lama berselang berbentuk khas, terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutra berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, semuanya polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah biasanya diberi pula hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah. Rambutnya tersisir rapi licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian di sanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Disamping itu diberi pula hiasan benang wol dikepang atau dirajut yang menurut istilah setempat disebut "burung hong".

Pada masa lalu penanggap tari cokek terbatas pada masyarakat Betawi keturunan Cina, sehingga disebut "hiburan babah". Dewasa ini digemari pula oleh masyarakat lainnya, untuk memeriahkan berbagai pesta, terutama pesta perkawinan. Seperti halnya orkes gambang kromong, tari Cokek termasuk kesenian yang paling luas penyebarannya dalam wilayah budaya Betawi. Grup gambang kromong dianggap tidak lengkap tanpa "wayang Cokek"

20.31 | 0 komentar | Read More

GAMBANG KROMONG

Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh ’pencon’). Orkes Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Cina.

Secara fisik unsur Cina tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya. Disamping lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi, Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Cina, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa, Macuntay, Gutaypan dan sebagainya.

Orkes Gambang yang semula digemari oleh kaum peranakan Cina saja, lama-kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsugnya proses pembauran. Bila pada masa lalu popularitas orkes Gambang Kromong umumnya hanya terbatas dalam lingkungan masyarakat keturunan Cina dan masyarakat yang langsung atau tidak langsung banyak menyerap pengaruh kebudayaannya, pada perkembangan kemudian, penggemarnya semakin luas, lebih-lebih pada tahun tujuh puluhan. Bebagai faktor yang menyebabkan diantaranya karena mulai banyak seniman musik pop yang ikut terjun berkecimpung didalamnya seperti Benyamin S pada masa hidupnya, Ida Royani, Lilis Suryani, Herlina Effendi dan lain-lain.

Gambang Kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun didaerah sekitarnya, lebih banyak penduduk keturunan Cina dalam masyarakat Betawi setempat, lebih banyak pula terdapat grup-grup orkes Gambang Kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat misalnya, lebih banyak jumlah grup Gambang Kromong dibandingkan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Dewasa ini terdapat istilah “Gambang Kromong asli” dan “Gambang Kromong kombinasi”.

Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi,  Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya.

Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang. Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong.

Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut.

Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama.

Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan bapak Nya'at.

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan musik ini menjadi "terengah-engah" antara hidup dan mati (dalam tabel yang dibuat Yahya AS termasuk dalam kondisi "sedang"). Musik ini hanya terdengar di antara bulan Juni saja, yaitu sewaktu hari ulang tahun Jakarta. padahal tanggal dan tahun kelahiran kota jakarta saja belum jelas pastinya. Itupun di tempat-tempat tertentu, seperti di Setu Babakan misalnya.

Diperlukan pembinaan dan pelestarian berkelanjutan seni musik Gambang Kromong ini, khususnya bagi generasi muda Betawi. Kepedulian generasi muda Betawi terhadap keseniannya (seni musik dan seni silat) hendaknya harus melebihi generasi muda di daerah lainnya, karena keberadaan etnis Betawi itu sendiri yang berada di ibu kota Jakarta sebagai etalase kebudayaan Indonesia.
20.13 | 0 komentar | Read More

SAMRAH

Samrah adalah salah satu budaya Betawi. Orkes samrah berasal dari Melayu sebagaimana tampak dari lagu-lagu yang dibawakan seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, dan Cik Minah dengan corak Melayu, disamping lagu lagu khas Betawi, seperti Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung dan sebagainya. Tarian yang biasa di iringi orkes ini disebut Tari Samrah.

Gerak tariannya menunjukkan persamaan dengan umumnya tari Melayu yang mengutamakan langkah langkah dan lenggang lenggok berirama, ditambah dengan gerak-gerak pencak silat, seperti pukulan, tendangan, dan tangkisan yang diperhalus. Biasanya penari samrah turun berpasang-pasangan. Mereka menari diiringi nyanyian biduan yang melagukan pantun-pantun berthema percintaan dengan ungkapan kata-kata merendahkan diri seperti orang buruk rupa hina papa tidak punya apa-apa.

Orkes Samrah biasa digunakan untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Lagu-lagu pokoknya adalah lagu Melayu seperti: Burung Putih Pulau Angsa Dua Cik Minah Sayang Sirih Kuning Masmura.Disamping itu, terkadang membawakan lagu khas betawi, antara lain: Kicir-kicir Jali-jali Lenggang Kangkung.

Orkes Samrah sering disebut juga Sambrah. Samrah telah berkembang di Jakarta sejak abad ke-17. Asalnya dari Melayu. Hal itu dimungkinkan karena salah satu suku yang menjadi cikal bakal orang Betawi adalah Melayu. Samrah berasal dari kata bahasa Arab “samarokh” yang berarti berkumpul atau pesta dan santai. Kata “samarokh” oleh orang Betawi diucapkan menjadi “samrah” atau “sambrah”. Dalam kesenian Betawi, samrah menjadi orkes samrah dan tonil samrah serta tari samrah.

Orkes Sambrah adalah ansambel musik Betawi. Instrumen musiknya antara lain harmonium, biola, gitas, string bas, tamburin, marakas, banyo, dan bas betot. Dalam menyajikan sebuah lagu, unsur alat musik harmonium sangat dominan dan kini sudah langka. Maka orkes samrah disebut pula sebagai orkes harmonium. Orkes ini dimanfaatkan sebagai sarana hiburan dalam berbagai acara. Lagu-lagu pokoknya berbahasa Melayu seperti Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Pakpung Pak Mustape, dan sebagainya. Di samping itu dimainkan juga lagu-lagu yang khas Betawi, seperti Jali-jali, Kicir-kicir, dan Lenggang-lenggang Kangkung.

Daerah penyebaran samrah terbatas di kawasan Betawi Tengah, seperti Tanah Abang, Cikini, Paseban, Tanah Tinggi, Kemayoran, Sawah Besar dan Petojo. Masyarakat pendukungnya kebanyakan kelas menengah. Kini popularitasnya makin surut, meski belakangan Lembaga Kebudayaan Betawi berupaya untuk membangkitkannya.
20.07 | 0 komentar | Read More

"PITUAH ANEH" KONG ACENG BIN TARO'

Lantaran semalem begadang coba rapikan langit-langit kamar yang mulai rusak,saya baru tidur habis subuh. Maklum saja hujan deras tiap hari nggak lihat waktu, padahal rumah yang secuil sudah mulai nyerah disiramin hujan. Terjaga, saya bangun jam 10 lewat 5 menit, karena terasa ada sesuatu ambruk bersamaan suara dari langit-langit kamar. Benar saja, ada bagian langit-langit kamar saya roboh. Tapi bersamaan dengan itu , diujung kamar sempit keliatan ade kakek-kakek berambut putih sebahu mentertawakan saya. Masih dalam keadaan mengantuk,saya bangun untuk mengangkat barang –barang yang menimpa bale-bale saya yang tanpa kasur.

Sambil sesekali melirik sang kakek, saya rapihkan kamar dan berdiri disudut kamar berhadapan diagonal dengan sang kakek. Saya beranikan diri tanya “Ade ape ketawain saye kek ?” Tapi dia terdiam dan menunjuk langit-langit kamar yang bolong. Ternyata genteng yang persis diatasnya juga pecah,sehingga air hujan turun menimpa langit-langit dan ambrol. Masih penasaran, saya kembali ajak bicara si kakek “ Siape sih kakek, mau ape dateng gini ari. Saye kan masi ngantuk. Kenape kakek ngerusak tidur saye?” Dengan mata yang nanar agak mendelik sang kakek menghampiri saya. Berjarak satu meter dari saya dia berkata “Kamu tau,bangun tidur kate orang bikin rejeki dipatok ayam. Kate orang dul, ntu kagak ade kitabnye. Nyang pasti kite kudu bangun pagi, kerne bangun siang kite bakalan keabisan udara” Saya bengong dan bingung,karena tidak mengerti maksud si kakek. Tapi si kakek buru-buru teruskan bicaranya “ Akibatnye kite keganggu metabolisme tubuh. Kate orang Sunda, pagi-pagi itu isuk-isuk. Besok, isukan. Skor pagi benilai 2 besok (hari ini). Ini pandangan monotheisme lokal, ngerti ? Kamu tau pandangan Ismail Faruqi : Tuhan tak ciptakan semesta alam untuk ke-Akbaran Ilahiyah-Nya,tapi untuk al-hayya atawa kehidupan. Jangan sia-siakan itu ” Saya menggelengkan kepala sementara sang kakek siap untuk nyerocos.

“Pantangan pagi adalah gak boleh nyap-nyap, juga jangan maki-maki. Ini untuk ciptakan suasana hati yang damai dan riang dipangkal hari yang mulai dari pukul 04.00 berakhir 12 jam kumdian” Saya masih terpana dengan ocehannya,tapi tidak membuat sang kakek berhenti bicara. “Lihat orang-orang kota berburu maut : Wajahnya letih dan menderita. Pebisnis memburu DEAL, birokrat memburu yang bisa digarong, DPR memburu yang bisa dilobi, ngulomo memburu amplop. Saban hari mereka melintasi hari-hari yang tegang. Yang mereka cari harta, yang didapat penjara dan penyakit. Emang gak bole kaya? Bole aje,tapi kudu gunain hati dan otak, tau kamu “otak”. Tanpa otak berfungsi, bisa karena disfungsi juga karena mal fungsi, maka orang itu akan alami penderitaan sebelum tua-tua banget” Dia bicara terus mengabaikan saya yang makin bingung maksud dari omongannye. Saya coba Tanya “Kakek ini siapa dan apa maksud kakek bicarakan semua ini pada saya” Dia terdiam dan senyum lebar seolah tak pedulikan pertanyaan-pertanyaan saya. Saya ikut terdiam,menunggu dia bicara lagi.

Benar saja. Si kakek ini mulai bicara lagi “ Kamu tau gak sekarang ini, kite ngalamin distorsi klimat terparah dalam 100 taon terakhir. Liat. Terjadi kebersambungan musim ujan sepanjang taon ini. Ini pasti buruk,tahu? Ini buruk buat produktipitas nasional. Tim moneter jangan tipu rakayat, pake bilang cadangan kite aman dan pertumbuhan oke. Saye juga gak tau ape dan knape ?” Makin mumet saya dengar omongan si kakek ini yang gak mau pedulikan keberadaan saya dikamar sendiri. Dia semaunya saja terus bicara, kadang sambil angkat kaki diatas bale-bale yang sudah rapi. Saya gak punya kesempatan bicara,seolah mulut saya berat dan lidah tersekat langit-langit saat saya ada rencana menanggapi pembicaraannya. Saya juga tidak tahu apa dan kenapa?

“Kek,sebenernye ape sih nyang kakek mauin dari saye. Sebenernye saye kagak ngarti maksud semua omongan kakek?” Ini kallimat rada panjang yang saya ucapkan pada kakek itu. Kembali si kakek menatap tajam muka saya sambil menarik nafas panjang. Saya jadi yakin kalau si kakek bakalan gak peduli dengan pertanyaan saya. Benar saja,dia langsung bicara “Masalah ini yang bisa jawab OLOT Kranggan dan orang-orang pintar dari Nias, tau ? Yang jelas ujan ngurangin kadar garem bumi. Ini tanda sesuatu lebi buruk, may be terjadi. Kalo ngerujuk logika dialektika materialisme, kite kudu dihempas kedasar, agar timbul kekuatan balik. Artinye, kejahatan pikiran elit-elit pemerentahan dan masyarakat akan dioptimalkan hingga nimbulin daya rusak yang diperluin demi munculnya pukulan balik. Akan ada tontotan lebi ngeri daripada yang ditampilin. Gubernur-gubernur,bekas menteri, itu tuh pimpinan kote ente ame bawahan-bawahannye plus Mat Beking en his geng” Si kakek merapikan rambutnya yang kusut,dia berhenti bicara sambil gerak-gerakin kakinye seolah mau terbang.

Saya cuma ingin tahu siapa dia dan apakah ini pituahnya buat kita yang menghadapi kehidupan nyata “Kek,siape sih kakek ini sebener nye. Name kakek siape” Tapi si kakek gak langsung jawab dan dia sudah mulai lepaskan kakinye dari ubin lantai kamar saya seakan siap terbang. Dan benar juga dia melesat tembus langit-langit dan genteng yang bocor, namun sempat terdengar jelas “Name gue ACENG  BIN  TARO’  
 
(Mathar Moehammad Kamal,23 Juli 2010 :23.56.58)
19.52 | 0 komentar | Read More

PELURUSAN SEJARAH BETAWI (Bagian 1)

PENGANTAR

Temen2 Betawi nyang ngikut diskusi Forum Kajian Budaya Betawi nyaranin ame saye supaye dibuatin catatan serial buat ngelurusin sejarah Betawi  nyang mane selame ini kite bace dibanyak tempat udeh berantakan. Sebage orang nyang perne sekole, tentunye kite punye bates-bates landasan terime ape nolak setiap informasi, apalegi kalo entu sejare.

Saye pelan-pelan nyari data, coba kejar sana-sini, sms-sms an, kirim e-mail atawa nyari di internet. Cuman aje, saye inget pituah DR.Zeffry Al Katiri, kalo nyang kite dapetin di Wikipedia atawa blog2 nyang gak ada sangketan referensi/ literaturnye jangan dijadiin sandaran buat nyari kebenaran. Apelagi kalo kite mau sebar tuh informasi dalem bentuk tulisan, kerne biar gimane kudu ade pertanggungjawaban ilmiah/akademik. Nah urusan ini saye inget ame dato Ridwan Saidi nyang dienye perne bilang “kite kudu jujur ame kemampuan pengetahuan kite dan jujur akan ape nyang  kite mau kembangin sebagai ilmu pengetahuan”. Saye ngerti, maksudnye jangan ampe bikin sesat orang nyang bace, jangan ampe dianggap bener padahal masih diragukan atawa banyak salahnye.

Lantaran pemikiran diatas, saye gak bisa pastiin kapan mulainnye saye bikin gerakan pelurusan Sejarah Betawi. Tapi sumanget en niat buat ngangkat kebenaran sekaligus menata ulang cerite sejare Betawi nyang kudu ade referensinye, tetep menggelora saban ari. Bahkan selalu terngiang tuntutan dalem pikiran supaye rada cepetan cari data en info berdasar fakta supaye sejare nyang sala jangan kedalon dan ditelen orang Betawi. Sejak pere kajian ditengah bulan Ramadhan, saye terus berupaye, tapi belonan juga ketemu.

Alhamdulillah, Lebaran aye dapet hikmahnye. Dari sekedar formalitas saling maap lebaran, saye dapetin info. Sayangnye belon boleh dibaca tuh info. Maklum  buku PRIANGAN bikinan De Haan, ternyate dibikin pol pake bahase Belande nyang diterbitin taon 1911. Saye juga gak bole bawa tu buku, jadinye cuma baca judul ame sekebet dua kebet aje saye pandangin (gak ngerti bacanye sih). Gak abis akal, saye sebar pertanyaan-pertanyaan nyang jadi beban dipikiran saye : Siape bisa bantu saye buat cari data en info upaye ngelurusin sejare Betawi. Eeeeh… ade nyang ngingetin saye. Katenye :”Pan abang ude bikin tuh sual kesalahan sejare Sunda Kalapa, kesalahan penetapan 22 Juni sebage tanggal lahir Jakarte nyang mane dikate orang Fatahilla pahlawan Betawi, tapinye kate abang malaan die penjajah buat Betawi”. Astaghfirullah … bener juga. Ini bisa jadi awal gerakan  saye buat ngelurusin sejare Beyawi. Nah ade baeknye saye ulang lagi nih cerite :

MENGUNGKAP KEBENARAN SEJARAH :
22 JUNI BUKAN TANGGAL LAHIR KOTA JAKARTA.

22 Juni Hari Ulang Tahun siapa ? Kota Jakarta sudah memasuki 483 tahun berdasarkan perhitungan lahirnya, yakni 22 Juni 1527,banyak orang Betawi atau Jakarta yang meyakini tanggal kelahirannya ini. Seperti halnya kebanyakan orang Betawi yang gak mau tahu tanggal & hari lahir, setuju saja tanggal 22 Juni sebagai HUT Jakarta. Kota Jakarta, mungkin karena benda mati, gak tahu dan setuju saja ketika ditetapkan 22 Juni 1527 sebagai kelahirannya tanpa menguji lebih jauh. Sebagai generasi kritis, sudah waktunya kita bertanya, 22 Juni yang ulang tahun siapa? Kenapa ? Budayawan Betawi yang baru saja ditetapkan Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai Sejarahwan & Budayawan Betawi, Drs.H.Ridwan Saidi, ternyata sejak tahun 1988 sudah mengajak banyak pihak menguji kebenaran penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta, tapi selalu diabaikan.

Kita tengok kebelakang selintas, akan kita dapati prosesi sejarah Bandar Kalapa yang sejak abad XV sudah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Pada tahun 1520, Kerajaan Sunda Pajajaran mengutus Wak Item orang dari Kerajaan Tanjung Jaya yang juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda Pajajaran. Disebut Wak Item,karena berpakaian serba item (hitam) seperti suku Baduy.Wak Item disebut juga Batara Katong, karena memakai mahkota dari emas. Kemudian Cirebon fitnah Wak Item sebagai penyembah berhala.

Dalam kajian sejarah, Wak Item merupakan proto manusia Betawi (sebelum dipastikan sebagai suku Betawi). Wak Item ditugaskan sebagai Xabandar (syahbandar) Bandar Kalapa atau dikenal Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pula menyebut, Fatahillah menyerbu Kalapa dengan maksud meng-Islam-kan penduduk Labuhan Kalapa. Padahal orang-orang Betawi sendiri telah menjadi Islam oleh Syekh Hasanuddin Patani pada Abad XV, mulai dari pesisir Timur Pulo Kalapa sampai Tanjung Kait di barat. Asalnya memang orang Betawi monoteistik (sejak Abad V) seperti dalam temuan Batujaya, Lalampahan, Bujangga Manik, Syair Buyut Nyai Dawit. Monoteisme leluhur Betawi dihajar Tarumanegara pada abad IV (Wangsakerta), tapi Pajajaran tidak ganggu, baik ketika masih monoteistik maupun setelah menjadi Islam. Bahkan Prabu SIliwangi memproteksi Pesantren Syekh Hasanuddin Patani (Babad Tanah Jawa, Carios Parahiyangan). Jadi tidak benar pada tahun 1527, Fatahillah menyerbu Wak Item & orang Betawi di Labuhan Kalapa, karena alasan mereka penyembah berhala.

Menurut F.De Haan (1932) dalam buku “Oud Batavia” tugas-tugas Xabandar adalah : mencatat keluar masuk kapal, memenej bisnis dan mencatat jumlah penduduk. Dalam Prasasti Padrao dijelaskan adanya perjanjian antara Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Portugis, antara lain berisikan : Portugis diberi hak membangun loji atau benteng disekitar Bandar Kalapa. Pada 1522, Wak Item teken perjanjian dengan Portugis yang merupakan perjanjian imbal beli : lada ditukar meriam. Wak Item meneken perjanjian PADRAO (baca padrong), dengan membubuhkan huruf WAU dengan khot indah.

Pelabuhan Sunda Kelapa adalah pintu masuk perdagangan yang ramai pada jaman itu, sehingga merangsang pihak manapun untuk menguasainya. Fatahillah kemudian menjadi utusan Sunan Gunung Jati untuk merebut Bandar Kalapa. Kemenangan Fatahillah 22 Juni 1527 dijadikan sandaran menetapkan perubahan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kemudian berubah menjadi Jakarta. Kemenangan ini disebut “Fathan Mubina” kemenangan besar dan nyata, dan Fatahillah disanjung sebagai pahlawan, kemudian tanggal kemenangannya ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.Bisa dipastikan Fatahillah adalah pahlawan bagi orang Cirebon, tapi tidak sebagai pahlawan bagi orang Betawi.

Dari folklore yang masih hidup di sementara kalangan penduduk Bogor asli penaklukan oleh Fatahillah disebut sebagai perang Betawi. Perang Penaklukan ini menelan korban yang tidak sedikit anatara lain, musnahnya 3.000 rumah yang dirusak oleh Fatahillah (de Quoto: 1531), tewasnya Wak Item atau Batara Katong versi naskah Cirebon beserta puluhan pengawal Labuhan. Daerah Mandi Rancan dikosongkan dari penduduk asli dan menjadi puing-puing reruntuhan belaka sampai Pangeran Jayakarta menjualnya pada Belanda pada 1602.( Kampung Betawi.com)

Benarkah tanggal 22 Juni sebagai ketetapan tanggal kelahiran yang teruji sejarah dan jadi acuan Pemerintah Kota Jakarta ? Penggagas penetapan hari kelahiran Jakarta adalah Sudiro,Walikota Djakarta Raja (1953) dan tahun 1958-1960 sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat.I Kotapradja Djakarta Raja. Pada saat berkuasa itu, Sudiro meminta kepada Mr.M.Yamin, Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan) dan Mr.DR.Sukanto (ahli hukum adat/sejarahwan) untuk melakukan pengkajian sejarah kelahiran kota Jakarta yang akan ditetapkan sebagai HUT Jakarta dikemudian hari.

Sukanto dalam penelitiannya menggunakan perhitungan berdasarkan almanak Jawa dan Islam, karena dianggap Fatahillah adalah Muslim yang menghormati adat Jawa. Almanak Jawa digunakan berdasarkan penghitungan masa panen. Untuk itu Sukanto “memperkirakan” nama Djakarta diberikan beberapa bulan setelah Maret 1527, berkaitan dengan mangsa panen. Sementara Prof.Dr.Husein Djajadiningrat meragukan tanggal satu mangsa kesatu pada 1527 jatuh pada 22 Juni Masehi.

Dr.J.A.Brandes, ahli kebudayaan Jawa, menetapkan masa panen adalah mangsa kesepuluh (Kasadasa) yang jatuh pada 12 April sampai 11 Mei. Djajadiningrat menyatakan bahwa berdasarkan penanggalan Islam selalu dikaitkan dengan hari besar Islam atau bulan-bulan Hijryiah. Patut diperhatikan bahwa bulan Rabiulawwal 933 H berlangsung sampai tanggal 4 Januari 1527. Sehingga ada kemungkinan penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta oleh Fatahillah terjadi antara tanggal 17 Desember 1526 sampai 4 Januari 1527. Menurut Djajadiningrat yang membandingkannya dengan catatan tahun 1880, tanggal satu mangsa kasa (kesatu) jatuh pada 17 Juli (menurut hitungan bintang Weluku) dan tanggal 9 Juli (menurut hitungan bintang Wuluh). Sementara di desa-desa di Kudus, Bupatinya RMAA. Tjondronegro, penduduk menghitung mangsa kasa mulai kira-kira tanggal 21 Juni. Ada pergeseran 2-3 hari dalam menghitung satu mangsa kasa, yaitu, tahun 1855 sampai tahun 1858 jatuh pada tanggal 22 Juni, tahun 1859 sampai tahun 1861, jatuh pada 21 Juni, sedangkan pada tahun 1947 jatuh pada tangga 23 Juni.

Polemik 22 Juni untuk ditetapkan sebagai hari kelahiran kota Jakarta berlangsung cukup lama. Kemudian A.Heuken SJ menekankan keraguannya terhadap penetapan 22 Juni sebagai tanggal lahir Jayakarta. Didalam kompilasi sumber-sumber sejarah Jakarta abad V (yang tertua) sampai tahun 1630 yang disusun oleh A.Heuken SJ, ditunjukkan bahwa penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang dilakukan Fatahillah yang dijadikan oleh Soekanto untuk menetapkan ulang tahun kota Jakarta “TIDAK TERBUKTI OLEH DATA SEJARAH MANAPUN”. Dengan begitu masihkah ada data bahwa sejarah memberikan informasi kebenaran tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta ? (Monalohanda. Arsip Nasional RI)

Soekanto adalah seorang ahli hukum adat, yang masih diragukan metode risetnya. Tapi secara substansial Soekanto sama dengan Djajadiningrat, hanya berbeda pada penghitungan tanggal saja. Soediro sendiri sebagai politisi PNI bermaksud menetralkan suasana panas di Konstituante yang sedang debat masalah Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Tanggal 22 Juni diambil sebagai upaya melunakkan MASYUMI saat itu, karena memang PNI yang legowo dan untuk bisa membujuk kompromi dengan MASYUMI di Konstituante 1958. Saat itu HAMKA langsung merespon dan mengatakan Jayakarta dari kata Fathan Mubina yang katanya merupakan khutbah Jayakarta pas menang (tanpa sumber,RS). Bisa dipastikan penetapan tanggal 22 Juni sebagai tanggal lahir Kota Jakarta merupakan kompromi politik PNI dengan MASYUMI. (uraian Ridwan Saidi kepada penulis pada pertengahan Mei 2010)

Akhirnya diakui oleh Soediro bahwa penetapan tanggal 22 Juni sebagai tanda kelahiran kota Jakarta semata-mata adalah keputusan politik, tanpa mau mengujinya dari sisi pandang manapun beradasarkan fakta ilmiah. Pada Sidang Dewan Perwakilan Kota Djakarta Sementara 1956 diputuskan tanggal 22 Juni sebagai tanggal ulang tahun kota Jakarta hingga sekarang. Sangat disayangkan,tidak ada yang mau peduli benar salahnya tanggal 22 Juni sebagai ketetapan Ulang Tahun Kota Jakarta !!! Sungguh ironis,kota yang jadi pusat kekuasaan,ibukota Negara, warga kotanya mau menerima begitu saja keputusan politik 1956 tanpa kemauan mengkaji ulang kebenarannya. Dengan diterbitkannya SK Nomor.6/DK.Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja tanggal 23 Februari 1956, ditetapkanlah tanggal 22 Juni sebagai tanggal lahirnya Kota Jakarta. Inilah Keputusan Politik nya Sudiro.

Prof.Dr.Soekanto menulis buku "Dari Djakarta ke Djajakarta" (1955). Dia bilang Djakarta lahir 22 Juni 1527,saat Fatahillah berhasil kalahkan "MUSUH BESARNYA, (UMMAT ISLAM BETAWI)". Kemudian tahun 1955 ketika diadakan Mubes RT/RK se-Jakarta yang usulkan 22 Juni sebagai HUT Jakarta disetuji oleh Soediroo,Walikota Djakarta Raja, walaupun ada anggota Dewan Perrwakilan Rakyat Sementara Daerah Djakarta Raja yang minta agar penetapan ditunda hingga tahun 1977.

Soediro dalam sambutannya 22 Juni 1956 juga mengkaitkan HUT Jakarta dengan Piagam Jakarta. Panitia penetapan HUT Jakarta dipimpin oleh M.Masserie (pendiri Kaoem Betawi 1923) dibantu 5 orang anggota yang 2 diantaranya orang Betawi : Jusuf Bandjar dan M.Saat. Keterangan sejarah terdekat bisa dipastikan bahwa data & fakta sejarah kuat tidak mendukung penetapan 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir kota Jakarta. Karenanya penetapan itu harus ditolak, khususnya bagi Kaum Betawi !!!

Patut kita kutip cerita Drs.H.Ridwan Saidi ketika sempat bertemu Pak Prijanto, Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Ridwan bertanya, 22 Juni bapak merayakan apa ? Pak Prijanto menjawab Fatahillah rebut Jakarta (sejatinya Cuma sekitar Labuhan Kalapa.RS) Kemudian kata Ridwan,kalau Fatahillah pemenang dan dirayakan berarti dia pahlawan. Penjahatnya siapa ? Sayang Ridwan Saidi tidak menceritakan jawaban Pak Prijanto. Tentu saja,jangankan Prijanto,bahkan mungkin juga Fauzi Bowo yang orang Betawi pastinya tidak bisa menjawab pertanyaan Ridwan Saidi. (uraian Ridwan Saidi kepada penulis pada awal Mei 2010 melalui telpon dan sms)

Menurut Ridwan Saidi, Labuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan Orang Betawi sebagai pelaksana yang ngurusin Labuhan Kalapa. Pada saat Fatahillah menyerbu Labuhan Kalapa, ada 3.000 rumah orang Betawi yang dibumi hanguskan (menurut buku de Quoto 1531) pasukan Fatahillah yang jumlahnya ratusan. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit hidup bagai Tarzan. Menurut Ridwan Saidi, Wak Item sebagai Xabandar Labuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua tewas, mati syahid melawan penjajah dari pasukan Koalisi Demak-Cirebon-Banten. Xabandar Wak Item tewas dan ditenggelamkan ke laut oleh pasukan Fatahillah,sementara 20 orang pengikutnya semua juga tewas (Babad Cirebon). Menurut Ridwan Saidi, tidak pernah ada pertempuran antara Fatahillah dengan Portugis, karena armada Fransisco de Xa tenggelam diperairan Ceylon. Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah adalah Xabandar Wak Item dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Bahkan menerut beliau Fatahillah juga dibantu tentara asal Gujarat yang merupakan anak buahnya di Pasai.

Ketika Fatahillah menguasai Bandar Kalapa, maka orang-orang Betawi yang ada, tidak boleh mencari nafkah sekitar Labuhan Kalapa (Hikayat Tumenggung Al Wazir). Kalau kemudian hari orang Betawi membantu VOC menghancurkan kerajaan Jayakarta, adalah wajar karena dendam orang terusir. Pada tahun 1619, kerajaan Jayakarta akhirnya takluk pada VOC karena mendapat bantuan orang Betawi .

Kembali pada kajian penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta, dimana ditetapkan perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kemudian menjadi Jakarta, ternyata masih misteri dan kita tak usah meyakin-yakinkan diri terhadap kebenaran ini. Sebagai keputusan politik, tentu saja kita masih bisa merubahnya demi kepentingan sejarah dan panutan generasi berikut. Kita jangan ikuti terus apa-apa yang salah, tapi siap untuk memperbaiki dan merubahnya. Atau kita tanyakan saja pada Monas yang tegak ditengah kota Jakarta, sebenarnya dengan data & fakta sejarah mana tanggal 22 Juni Kota Jakarta ditetapkan tanggal ulang tahunnya?

Sebagai penerus generasi Betawi kita ditantang untuk cari tahu, membenarkan pendapat diatas karena putusan politik, atau kita dapatkan fakta baru sejarah Jakarta ini.Bagi kaum Betawi, 22 Juni 1527 bukanlah kemenangan,tapi peristiwa  yang sangat menyakitkan, karena Wak Item dan pasukannya serta kaum Betawi yang 3.000 rumahnya dibumi hanguskan menjadi bukti. Alasan Fatahillah menyerbu Bandar Kalapa dengan alasan agama juga sudah tertolak dengan fakta bahwa Wak Item adalah seorang muslim yang tidak setuju dengan otoritas keilmuan Islam Cirebon. Oreintasi keagamaan Islam orang Betawi pada Syech Quro di Krawang, dimana syech Qurro dalam wasiatnya meminta agar Qur'an-nya dikuburkan bersama jasadnya bila dia wafat. Syech Qurro menikahi putri Batujaya dan Prabu Siliwangi yang Bhrahmanis (Hindu) melindungi Syech Qurro dan madrasahnya yang mana suatu saat Prabu Siliwangi menikahi santri Syech Qurro bernama Subang Larang. Menurut Laporan Hotman (1596) tentang Jayakarta, dikatakan ada 3.000 rumah dikosongkan,kota ditinggal karena penduduk mengungsi pada saat penyerbuan Fatahillah.


Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan:
  1. Kaum Betawi dibawah Wak Item sudah lebih maju dengan melakukan Pakta Perdagangan dengan Portugis,dimana Portugis hanya diberi akses sedikit saja .
  2. Fatahillah dan pasukan koalisi (Demak,Cirebon & Banten) menyerbu Bandar Kalapa bukan dengan alasan agama,tapi ingin menguasai pintu perdagangan.
  3. Terjadi pembumihangusan kaum Betawi (yang sudah Islam) pada saat itu dan itu berarti Fatahillah bukanlah pahlawan bagi Betawi,mungkin bagi Cirebon.
  4. Penetapan 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir Kota Jakarta dalah kekeliruan,karena tidak ada sandaran maupun data atau fakta sejarah dari manapun. Kecuali kompromi politik dan menghasilkan keputusan politik oleh Soediro tahun 1956

Ataukah kita tidak peduli dan terima saja karena kita memang tidak peduli dengan jati diri Betawi dan Kota Jakarta.Sudah selayaknya Kaum Betawi mau menguji ulang catatan tentang sejarah Kaum Betawi,baik mulai dari Situs Batujaya (abad II SM) maupun pada saat penguasaaan Bandar Kalapa oleh Wak Item tahun 1522 dan penyerbuan Fatahillah yang dipuncaki 22 Juni 1527. 

Terlepas Pemerintah tidak peduli dengan penelusuran fakta sejarah ini, tapi bagi Ras/kaum Betawi di Jakarta dan sekitarnya, kita harus memiliki sikap untuk meluruskan sejarah yang cukup lama dibuat keliru karena keputusan politik sandarannya. (mathar moehammad kamal, Forum Kajian Budaya Betawi-LKB/delapan belas Mei 2010/updating 20 Juni 2010, editing 18 September 2010)

Ahmad Mathar Kamal
19.40 | 1 komentar | Read More

Kopi Pletok

Written By Unknown on Rabu, 04 Mei 2011 | 12.19


Bir Pletok
Pernah nyicipin bir pletok ? Yang sudah pernah biasanya akan bilang : beughh .. mantep dahh ! 
Bir pletok emang mantep. Hangat dan Seger. Hangat dan segernya hampir mirip dengan anget dan segernye bandrek.  Tetapi bedanya, Hangat dan Segernya Bir Pletok biasanya diperoleh dari kandungan kombinasi rempah-rempah : Lada, Cabe Jawa, Sereh, dan Jahe. 
Walaupun namanya beer, Minuman Khas Betawi ini kagak ngandung alkohol sama sekali. Anak Betawi tau kalo minuman ber-alkohol walaupun kadarnya cuman sedikit, tetep aje HARAM.

Minuman Khas Betawi ini Asyik diminum kapan kite mau. Dalam kondisi cuaca panas, bir pletok paling enak dinikmatin pake es batu (nyebutnye nyang bener "es batu" ape "batu es" yee ? .. au ahh, kalo mikirin ntu doang, bisa-bisa kagak kelar nihh tulisan.. hehehehe..

Manfaat untuk kesehatan dari rempah-rempah dan herbal yang dikandung dalam bir pletok, sudah gak perlu penjelasan panjang lagi. Kebanyakan orang udeh pade tau. Nyang belon tau, silakan cari tau sendiri aje.. hehehehe..

Kopi 
Ente demen ngupi ? nah, inilah kabar gembira buat ente nyang suka ngupi !
Minuman dari biji hitam bernama KOPI ini, yang kata sejarah ditemuin pertama kali di Afrika pada 575 M, ternyata memiliki khasiat kagak sepele. Minuman ini dikenal di seantero dunia, dinikmatin mulai buruh kasar hingga eksekutif kelas atas (pokoknye kagak pandang status sosial dehh), dengan demikian buruh kasar dan pebisnis pun memperoleh manfaat kesehatan yang sama. Manfaat minum kopi (bahasa betawinya : Ngopi atau Ngupi) bukan cuman ngilangin ngantuk doang. Berdasarkan kajian terbaru American Diabetes Association di Harvard School of Public Health, Amerika Serikat, dinyatakan bahwa efek jangka panjang dari kebiasaan ngupi bisa membantu mencegah diabetes.

Tapi emang bener juga sih, bagi sebagian orang ngupi ini kurang baek, tergantung dari sensitivitas orang tersebut terhadap kafein. Namun dalam jumlah dan takaeran yang tepat, kopi pun memiliki khasiat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh. Kagak tanggung-tanggung, khasiatnya bermanfaat bagi jantung dan liver kita ! woww !

Buat Jantung. Sebuah studi masif di Harvard menemukan tidak ada peningkatan resiko serangan jantung pada peminum kopi jangka panjang. Dalam kasus tertentu kopi bahkan akan nyelametin hidup ente !.

Peminum kopi berusia 55 hingga 69 tahun yang mengonsumsi kopi tiga cangkir per hari mengalami penurunan resiko kematian akibat serangan jantung sebesar 24 persen dibanding bukan peminum kopi, demikian menurut analisa penelitian yang dilakukan terhadap 27 ribu partisipan di Amerika Serikat. Lebih aneh lagi, resiko kematian akibat penyebab lain juga menurun sebesar 15 %... wew !

Buat Hati/ Liver. Kopi bahkan dalam jumlah yang sedikit, terlihat mampu melindungi liver anda. Riset dilakukan oleh Kaiser Permanente menemukan kasus sirosis sedikit pada peminum alkohol yang juga menenggak kopi. Minum sedikitnya secangkir sehari memotong resiko sirosi hingga 30 persen, dan mengonsumsi 4 atau lebih cangkir sehari dapat mengurangi resiko hingga 80 persen bila dibanding mereka yang tidak mengonsumsi kopi.

Penyakit parkinson.Satu keuntungan lagi bagi peminum kopi, menurut penelitian tim peneliti Havard, AS, kebiasaan minum kopi mengurangi sepertiga resiko kemungkinan mengalami penyakit Parkinson. Penelitian yang dilakukan oleh tim Italia malah menunjukkan angka lebih rendah lagi, peminum kopi memotong resiko Parkinson hingga 80 % dibanding yang tidak mengonsumsi sama sekali.

Bagi ente penggemar kopi hitam, asal tidak berlebihan, akan memperoleh keuntungan dalam kesehatan di setiap teguk kopi yang anda minum. Sedangkan menambah kopi dengan rasa lain seperti rempah-rempah, coklat, atau vanila, tidak hanya membangkitkan selera namun juga memberi manfaaat tambahan bagi tubuh. 

Penonton kecewa : Ngomong-ngomong ini pegimane sih ? Judulnye Kopi Pletok, nyang Loe bahas Kopi ame Bir Pletok ! Nyang bener loe se !

Aqse Syahid ngejawab : hehehe...  harap Sabar .. Sabar... Sabar,  sudare-sudari ..

Kopi Pletok
Berawal dari demen ngopi dan doyan konsumsi bir pletok, serta sudah merasakan khasiat dan nikmatnya kedua jenis minuman tersebut,  iseng-iseng diramulah kedua minuman tersebut menjadi satu. Tujuannya cuman satu dan sederhana saja, yaitu supaya bisa ngupi sambil sekaligus menikmati bir pletok. Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.. hahaha.. begitu doang. 

Pertama kali ngeramu, walaupun dirasakan ada manfaat pada tubuh tetapi ramuan tersebut masih berasa kurang enak di lidah. Di coba lagi buat ngeramu, ehh enak. Besoknye nyoba lagi ngeramu, ehh kagak enak.. hehehe.. begitu seterusnye, Trial And Error. Sampe akhirnye percobaan tersebut, menghasilkan pengetahuan dan takaran yang tepat untuk nyampurin Kopi dan Rempah-Rempah Bir Pletok supaya berasa enak-nikmat di lidah serta manfaatnya tetep ada di badan.

Tentu saja rasa dari ramuan ini berbeda dengan Kopi dan Bir Pletok. Minuman ini punya sensasi yang Tak Terlupakan. Sulit sekali menggambarkan rasa dari minuman baru ini, tetapi jika ditanyakan : pegimane rasanye ? maka ane akan menjawab : Perpaduan Rasa Kopi, Bandrek dan Bir Pletok yang sensasional ! wedewwww...

Nahh, mulain sekarang ane pun berani ngumumin kepada dunia , Ada Minuman Sehat Baru Bernama : Kopi Pletok !!

*Note and Warning : Dan dengan dipublishnya tulisan ini (Hari Kamis, 5 Mei 2011) telah dinyatakan dan disyahkan bahwa : Kopi Pletok ini Ciptaan Aqse Syahid. Barangsiapa ada yang menggunakan kata ini (KOPI PLETOK) maka dapat dipastikan orang tersebut hanya mencontek doang !!*

12.19 | 0 komentar | Read More

Condet Cagar Sejarah Betawi

Written By Andikuple on Senin, 02 Mei 2011 | 18.56





Condet, yang ditetapkan gubernur Ali Sadikin sebagai cagar budaya Betawi sejak 1976, boleh dikata gagal total. Warga Betawi yang dulu mayoritas di kawasan Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur ini, sudah banyak yang hengkang atau makin terdesak ke pedalaman. Sementara kebun dan pepohonan rindang yang dulunya boleh dikata tidak tertembus sinar matahari saking rimbunnya, kini berganti menjadi rumah-rumah dan gedung bertingkat.


Gagal menjadikan Condet sebagai cagar budaya, kini datang usulan baru. Pemprov DKI Jakarta diminta menjadikan Condet sebagai cagar sejarah Betawi. Usulan ini terlontar dalam seminar 'Pengembangan Pelestarian Budaya Betawi', 6 Oktober 2001, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menjadikan Condet sebagai cagar sejarah, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, punya dasar yang kuat.

Ia mengemukakan temuan arkeologis pada situs Condet mengindidikasi hunian purba, sedikitnya pada periode 3000 tahun SM. Toponim di Condet (Ciondet) seperti Batualam, Batu Ampar, Bale Kambang, Pangeran, Dermaga, mencerminkan kehidupan masyarakat dan kebudayaan masa lampau. Dinas Kebudayaan dan Permusiuman DKI Jakarta, pada penelitian arkeologis pada tahun 1970-an telah menemukan benda-benda prasejarah seperti kapak, beliung, gurdi, dan pahat dari batu.

Benda-benda itu banyak terdapat di tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan. Benda-benda ini diduga berasal kira-kira 1000 - 1500 SM. "Pada masa itu, di Condet dan beberapa tempat di Jakarta sudah ditempati nenek moyang bangsa Indonesia," tulis sejarawan Sugiman MD dalam buku 'Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi.' Berarti di zaman batu baru (neolithic) orang telah hidup dan tinggal di Condet, dengan mempergunakan benda-benda tadi sebagai alat untuk menebang pohon, memotong, dan untuk berbagai keperluan lainnya. Khusus di Pejaten, pada penggalian 1971 didapat pula lampu perunggu, lampu kuil, menandakan di sana telah dikenal orang akan adanya kepercayaan atau agama.

Untuk lebih memperkuat usulannya kepada Pemprov DKI, Ridwan mencontohkan batu ampar yang kini menjadi nama jalan dan kelurahan di Condet. Batu ampar yang di Tangerang disebut batu ceper adalah batu yang biasanya berukuran minimal 4 x 6 meter. Di atas batu ini sesajen diletakkan. Sangat mungkin batu ampar di Condet masih ada di suatu tempat di kebon penduduk. Bale Kambang, nama kelurahan di Condet, merupakan pasanggrahan raja-raja. Dapat dipastikan sisa bangunannya sudah musnah, tetapi lokasinya masih dapat diperkirakan. Sedangkan batu alam, juga nama jalan di Condet, dalam tradisi kekuasaan purba, adalah tempat melantik raja baru.


Di samping merupakan permukiman tertua di Jawa, Condet yang penduduknya sangat taat menjalankan syariat agama, pernah dikenal sangat heroik melawan penjajah. Pada 1916, rakyat Condet di bawah pimpinan Haji Tong Gendut mengangkat senjata melawan tuan tanah Belanda yang menguasai Cibeureum, Kranggan, dan Cimanggis, di Kabupaten Bogor. Tempat tinggal tuan tanah itu di depan Jl Raya Condet sekarang ini, yakni di Kampung Gedong. Rumah tuan tanah ini disebut kongsi, yang kini dipakai untuk Kesatrian Polisi Tanjung Timur. Tong Gendut mengumpulkan para pemuda berjihad fi sabilillah melawan tuan tanah yang selalu memeras penduduk. Tetapi pemberontakan ini dapat digagalkan.Pemberontakan kedua terjadi 1923, tidak menggunakan kekerasan senjata, melainkan dengan melakukan penebangan pohon-pohon besar. Pemberontakan ini berhasil membuat para mandor tuan tanah mundur, karena tidak berani menghadapi massa rakyat.Sejak saat itu, rakyat Condet makin berani melawan Belanda, termasuk menunggak pajak atau blasting. Ini berlangsung hingga 1934, tahunketika rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai pemerasan yang dilakukan tuan tanah. Rakyat meminta bantuan hukum kepada tokoh-tokoh perjuangan: Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin, dan lain-lain. Rakyat Condet akhirnya menang perkara. Tetapi keputusan baru datang setelah pemerintah Federal. Di masa federal ini, Belanda mengambil hati rakyat Condet, dengan menghapuskan tuan tanah.

18.56 | 0 komentar | Read More